PADA ZAMAN DULU, terdapat suatu suku bangsa primitif yang mempunyai kebiasaaan memakan tanah. Mulanya hal ini mengherankan, tetapi setelah diadakan penelitian lebih mendalam ternyata ada dua hal yang berkaitan : pertama tanah yang dimakan banyak mengandung zat besi (Fe); kedua, dilihat sehari-hari suku tersebut kurang akan zat besi. Secara naluriah suku itu mencari zat besi dari tanah, sehingga mereka tidak akan menderita penyakit anemia karena kekurangan zat besi.
Dari sini permulaan terapi dengan obat dimulai. Mereka menularkan pengetahuan ini kepada sesamanya. Walaupun metode yang mereka gunakan masih kasar. Akan tetapi banyak sekali obat-obatan pada saat ini diperoleh dari sumbernya dengan metode sederhana berdasarkan apa yang telah mereka lakukan.
Diantara banyak penemuan arkeologi yang ditemukan dan diartikan oleh ahli arkeologi ditulis 3000 tahun sebelum masehi. Temuan yang paling dikenal dari catatan-catatan tersebut adalah Papyrus Ebers. Papyrus Ebers adalah suatu kertas berisi tulisan yang panjangnya 60 kaki dan lebarnya satu kaki dari abad ke-16 sebelum masehi. Dokumen ini sekarang disimpan di University of Leipzig, untuk mengingat seorang ahli sejarah Mesir, berkebangsaan Jerman, bernama George Ebers, yang menemukan dokumen tersebut. Sejak saat itu banyak orang menerjemahkan isi dokumen tersebut. Sampai tahun 1550 sebelum masehi, bangsa Mesir masih menggunakan obat-obatan serupa dengan bentuk sediaan yang masih dipakai sampai sekarang.
Isi dari Ebers Papyrus atau Pangrus Ebers adalah formula-formula obat dengan menguraikan lebih dari 800 formula atau resep. Di samping itu disebutkan juga sekitar 700 obat-obatan yang berbeda. Obat-obatan tersebut berasal dari tumbuh-tumbuhan walaupun tercatat juga obat-obatan yang berasal dari mineral dan hewan. Obat-obatan yang berasal dari tumbuh-tumbuhan sampai sekarang masih dipakai antara lain, seperti akasia, biji jarak (castor), dan anisi. Selain itu disebut juga obat-obat yang berasal dari mineral, seperti besi oksida, natrium bikarbonat, natrium klorida, dan sulfur. Hasil ekstraksi dari binatang juga dipakai sebagai obat dalam terapi.
Pada saat itu bahan pembawa yang dipakai untuk sediaan adalah bir, anggur, susu, dan madu. Formula yang mengandung dua lusin atau lebih zat yang berbeda, kemudian disebut sebagai suatu bentuk sediaan ‘polypharmacal’. Lumpang, penggilingan tangan, ayakan dan timbangan biasa digunakan oleh orang Mesir. Sediaan yang telah dikenal saat itu adalah supositoria, obat kumur, pil, tablet hisap, salep mata, plester, dan enema.
Galuh Tirtha Yudaningrum/30510016